IHSG Merah Membara, Saham ITMG Justru Melejit 20% dalam Seminggu: Efek Borong Asing?
Adlex.id, Jakarta – Pekan pertama Maret 2026 menjadi periode yang cukup berat bagi para pelaku pasar modal di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami tekanan hebat, ditutup merosot tajam -6,41% sepekan ke level 7.585,69 sampai perdagangan Jumat (06/03/2026). Padahal, pada akhir Februari lalu, IHSG masih dengan gagah bertengger di level psikologis 8.000-an.
Ketegangan geopolitik global antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat disinyalir menjadi katalis utama yang memicu kepanikan pasar domestik hingga IHSG merah. Sektor-sektor sensitif seperti energi, material dasar, infrastruktur, hingga cyclical pun tak luput dari aksi jual masif. Namun, di tengah badai koreksi ini, saham ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk) justru tampil sebagai anomali yang memukau.
Baca Juga : Saham YELO di Akumulasi Broker XL: Targetkan Level 200?
Anomali Sektor Energi: Keluar dari Fase Sideways Panjang
Meski sebagian besar saham tertekan akibat outflow dana asing, ITMG justru berhasil melaju kencang dengan kenaikan sekitar 20% hanya dalam waktu satu minggu. Jika kita melihat secara teknikal, pergerakan ini merupakan momentum “pecah bisul” setelah ITMG mengalami fase sideways atau konsolidasi yang sangat panjang.
Tercatat sejak November 2025 hingga akhir Februari 2026, harga saham emiten batu bara ini cenderung jalan di tempat. Namun, memasuki awal Maret, volume pembelian mulai meledak dan mengakhiri masa jenuh tersebut.
Ritel Mulai Jenuh, Barang Jadi “Kering”
Menariknya, kenaikan harga ini justru terjadi saat jumlah pemegang saham ritel mulai menyusut. Berdasarkan data per 31 Januari 2026, jumlah shareholders ITMG berkurang sebanyak 1.951, menyisakan 55.567 pemegang saham dari posisi Desember lalu yang masih sebanyak 57.518.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar ritel telah melakukan profit taking atau mungkin keluar karena tidak sabar menunggu fase konsolidasi yang lama. Efeknya? Pasokan barang di pasar menjadi lebih “kering” dan terkonsentrasi.
Bandarmologi: Asing Mulai Masif “Serok” Barang
Berdasarkan data broker summary yang dihimpun tim Adlex dari NEOBDM, terlihat jelas adanya perpindahan kepemilikan saham secara signifikan dari broker ritel ke broker institusi/asing.
Broker AK terpantau menjadi penampung utama dengan menyerap barang dari broker XL sebanyak 23.787 lot dengan nilai mencapai Rp58,6 Miliar pada harga rata-rata (avg) 24.808. Tidak hanya AK, broker ZP dan BK pun terlihat ikut mengumpulkan barang dalam jumlah besar. Di sisi lain, broker yang identik dengan investor ritel seperti YP dan XC justru mendominasi barisan penjual.
Mengejar “Double Jackpot”: Dividen dan Capital Gain
Masuknya broker kategori asing (AK, ZP, BK) memberikan sinyal kuat bahwa institusi besar mulai mengambil posisi strategis. Mengingat riwayat ITMG yang kerap membagikan dividen besar pada bulan April, nampaknya asing mulai “nyicil” barang demi mengincar dividend yield yang menggiurkan tahun ini.
Bagi investor ritel yang masih setia menyimpan (hold) saham ITMG sejak harga bawah, potensi mendapatkan “Double Jackpot” sudah di depan mata: keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain) sekaligus jatah dividen yang diprediksi cair bulan depan.
Panduan Investasi: Hati-hati Kejar Harga Atas
Meskipun prospek dividen sangat menarik, tim Adlex memberikan catatan penting. Untuk saat ini, kami tidak merekomendasikan untuk melakukan pembelian (entry) secara agresif bagi investor baru.
Mengingat harga yang sudah naik signifikan (20% seminggu) dan IHSG merah, risiko terjadinya aksi ambil untung oleh broker asing yang sudah punya barang di harga bawah bisa terjadi kapan saja. Strategi paling bijak saat ini adalah menunggu koreksi sehat atau melakukan manajemen risiko yang lebih ketat.
Disclaimer: Informasi ini merupakan ulasan data dari tim Adlex.id untuk edukasi, bukan merupakan perintah beli atau jual. Keputusan investasi sepenuhnya ada pada tangan pembaca. Pastikan melakukan analisis mandiri sebelum mengambil langkah investasi.


Comment