by

Review Film PARASITE (2019)

Adlex Film PARASITE – Kembalinya Bong Joon-Ho ke tanah airnya merupakan sesuatu yang telah lama ditunggu-tunggu. Setelah dua film Hollywood-nya yang menghadirkan Chris Evans di Snowpiercer dan Okja yang tayang di Netflix terbilang menjadi dua karya yang dianggap paling lemah di sepanjang karirnya.

Film PARASITE

Pulang kampungnya Bong Joon-Ho tanpa bayang-bayang produser Hollywood digadang-gadang akan mengembalikan apa yang telah kita dapatkan dari Memories Of Murder yang membuatnya mendapatkan perhatian dunia internasional untuk pertama kalinya.

The HOST yang merupakan film favorit saya dan pernah menjadi film Korea terlaris sepanjang, Mother yang indah dan menggetarkan bahkan kekocakan dan Black Comedy yang ironis dari debutnya di Barking Dogs never bite.

Bong terbukti melampaui ekspektasi siapapun melalui Parasite, kemenangannya meraih trofi utama di ajang festival De Cannes tahun ini pada akhirnya memang tidak mengherankan.

Pencapaianya yang secara sinematis, politis dan humanis berhasil mengalahkan film terbaru Quentin Tarantino di ajang tersebut, yang pada awalnya dianggap sebagai kontender terkuat, sebagaimana yang diakui Bong disalah satu kesempatan.

Ia sengaja menghadirkan plot yang terasa terlalu liar untuk ditebak ke mana arahnya ketika treatment plot twist ending dirasa sudah tidak lagi terasa baru bahkan boleh jadi sedikit usang .

Melalui naskah yang disusun bersama Han Ji Won, PARASITE berjalan dengan dramatikal flow yang meskipun awalnya berbau melodrama konvensional, namun pada akhirnya hadir begitu muktahir dan visioner .

Naskah PARASITE

Dalam naskah, Bong menghadirkan begitu banyak setup namun tidak sedikit pun terlihat kewalahan. Ketika satu persatu mampu diganjar dengan peop yang layak, namun beruntungnya sebagai pertanda bahwa Parasite adalah sebuah masterpiece, akan masih menyisakan “PR” (pekerjaan rumah) yang akan dibawa oleh para penontonnya sekembalinya ke rumah.

Nada politisnya akan cenderung terdengar seperti pengolok -olokan akan dua karyanya sebelum ini, Okja dan Snowpiercer yang memang disetir industri Hollywood, yang notabenenya bermarkas di Amerika Serikat.

Sementara secara halus, konsep besarnya merupakan kritisi akan situasi terkini kondisi masyarakat Korea Selatan, bahkan apabila jeli Parasite tengah mengolok-olok situasi dunia kontemporer secara keseluruhan. Ketika aspek perekonomian menjadi agama yang menerapkan sistem baru kekastaan.

Parasite yang digarap secara halus dan insightful, walau 1 dan 2 plot masih terasa terlalu mulus dan mengandung unsur kebetulan. Tapi bukan Bong namanya jika membiarkan hal tersebut lolos begitu saja, tanpa membuat kita resah dengan directing yang menyentuh level detil.

Sebagaimana film-film sebelum ini, tema besar keluarga selalu dikedepankan oleh Bong. Siapapun yang rindu dengan The Host cs akan terobati dengan dinamika yang hadir melalui karakter-karakternya yang unik.

Beberapa plot mungkin sedikit disayangkan berjalan behind the sceen tanpa pernah melibatkan penonton dalam prosesnya, tapi apapun itu akan kita maafkan berkat jajaran cast yang luar biasa.

Dipimpin oleh Song Kang-Ho yang selalu tampil prima, long time collaboratornya Bong sejak Memories of Murder. Choi Woo-Sik, Park So-Dam yang tengah naik daun bahkan Jo Yeo-Jeong yang tampil begitu jujur dan membumi.

Gaya penyutradaaran Bong kali ini terasa begitu lepas, presentasinya yang memukau dan seringkali menggelegar yang terakhir kali kita lihat di Mother, kembali menyihir kita dengan tenung yang begitu indah pilu dan mentah.

Bong berhasil mengorkestrasi dan mengoptimalkan tata produksi, terutama aspek sinematografi yang disulap layaknya lembaran buku cerita bergambar, dengan production design yang begitu memukau yang diilhami cerita dongeng.

Scoring PARASITE

Begitu juga musik scoring yang menyuntikkan kualitas dramatis tanpa pernah terasa berlebihan. Walau kualitas sebenarnya directing Bong seringkali berhasil memadukan berbagai genre dalam satu orkestra yang sangat lembut, lucu dan menggemaskan. Sering kali terasa terlalu kasar namun tetap terasa puitis.

Overall, setelah Okja yang terasa cukup tumpul untuk standar “masterpiece”- nya, Bong berhasil membangkitkan kesadaran kita secara massal mengenai situasi umat manusia secara keseluruhan dalam sebuah landscape sinematik yang begitu menggetarkan dan pada akhirnya akan membuat goyah pertahanan para penontonnya dalam dilema yang begitu menyakitkan.

Comment

News Feed